Friday, June 19, 2009

Tuntutan Gerakan Islam: Fikrah Al-Marhum Sheikh Fathi Yakan


Dakwah Rasulullah S.A.W merupakan suatu Gerakan.

Sebagai landasan yang menguatkan perlunya membentuk suatu Gerakan ialah praktik Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bagaimana caranya baginda dahulu membentuk suatu Negara Islam. (Daulah Islamiyyah). Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam tidaklah berpegang pada cara bekerja secara individu. Semenjak hari pertama dari da’wahnya, Rasulullah begitu mementingkan terbentuknya suatu GERAKAN yang teratur. Untuk kepentingan itu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam lebih dahulu memilih tenaga-tenaga teras, untuk dijadikan suatu daya pendorong dalam pelayaran kapal Islam.

Tidak lama kemudian ternyata 'kapal Islam' itu penuh sesak dengan penumpang yang datang dari seluruh penjuru dunia ini. Beritanya memenuhi mata telinga dan hati dunia. Demikianlah usaha Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam selama baginda berda’wah di Mekah.

‘Amal Jama’i adalah kewajiban Agama

Dari keterangan yang tersebut di atas, dapatlah ditegaskan, bahawa bekerja sama untuk menegakkan ajaran Islam, itu merupakan tugas keagamaan. Kita wajib memulai kehidupan menurut Islam. Dan kewajiban ini tidak dapat dilaksanakan tanpa membentuk suatu JAMA’AH (Organisasi). Oleh yang demikian membentuk JAMA’AH untuk memulai gerakan Islam juga hukumnya menjadi wajib.

Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam begitu banyak perintah supaya kaum Muslimin bersatu, tolong-menolong, dan tegak dalam satu barisan. Kita mulai dengan maksud ayat-ayat Al-Qur’an:

“Hendaklah ada di antara kamu suatu golongan yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh orang berbuat baik, dan melarang orang berbuat yang tidak baik, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Surah Ali-’Imran: ayat 104)

Firman-Nya lagi yang bermaksud:

“Kamu adalah ummat yang terbaik, yang dilahirkan untuk ummat manusia; kamu menyuruh orang berbuat baik, dan melarang orang berbuat yang tidak baik, dan kamu beriman kepadaAllah.”
(Surah Ali-’Imran: ayat 110)

Firman-Nya lagi yang bermaksud:

“Kenapa tidak pergi suatu kelompok yang kecil dari tiap-tiap golongan yang besar di antara kamu, untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepada kawannya itu, agar supaya kaumnya itu dapat menjaga dirinya.”

(Surah Al-Taubah: ayat 122)

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam bermaksud:

“Allah berfirman: “Kami akan membantu engkau dengan mengutus saudaramu, dan Kami akan memberikan kepada kamu berdua kekuasaan yang besar, sehingga mereka, Fir’aun dan pengikutnya, tidak akan dapat menganiaya kamu berdua. Berangkatlah kamu berdua dengan membawa mu’jizat-mu’jizat Kami. Kamu berdua dan orang-orang yang mengikuti kamu, itulah yang akan menang.”
(Surah Al-Qasas: ayat 35)

“Dan tolong-menolonglah kamu untuk mengerjakan kebaikan dan ketaqwaan....”
(Surah Al-Ma’idah: ayat 2)

Dan dalam himpunan Hadith di antaranya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

“Hendaklah kamu berada dalam JAMA’AH: kerana sesungguhnya jama’ah itu adalah rahmat, sedang perpecahan itu merupakan siksa.”
(Hadith Riwayat Muslim)

“Barangsiapa yang memecah belah, maka ia tidak termasuk golongan kami. Rahmat Allah berada bersama-sama dengan JAMA’AH sesungguhnya serigala hanya mahu memakan kambing yang menyendiri.”

(Hadith Riwayat Tabrani)

‘Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

“Hendaklah engkau berada bersama-sama dengan jema’ah kaum Muslimin dan Imam mereka.” Hudzaifah bertanya: “Bagaimana, ya RasuluLlah, kalau tidak ada Jema’ah dan tidak ada Imam mereka?” Rasulullah Sallalahu ‘alaihi Wasallam menjawab: “Hendaklah engkau berada bersama-sama dengan mereka, walaupun engkau harus menggigit pohon korma, sampai akhirnya engkau dijemput oleh maut dalam keadaan yang demikian.” “Barangsiapa yang mati dalam keadaan memisahkan diri dari jema’ah kaum Muslimin, maka bererti ia mati sebagai mati Jahiliyyah.”

(Hadith Riwayat Muslim)